JAKARTA - Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Nizhar Marizi mengutarakan ekonomi hijau krusial bagi publik sebab imbas perubahan iklim amat nyata.
“Mengapa ini (ekonomi hijau) penting untuk masyarakat, untuk penduduk kita? Karena memang dampaknya (perubahan iklim) sangat konkret,” dalam keterangan dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Beliau memaparkan bahwa ekonomi hijau ialah pola pembangunan yang sanggup menyeimbangkan antara kemakmuran nasional dengan kelestarian dari segi ekosistem.
Maksudnya, pada satu sisi tetap memusatkan perhatian pada penanaman modal, aset, sarana prasarana, memicu penciptaan lapangan pekerjaan, melainkan turut memproduksi kecakapan tenaga kerja yang lebih hijau (green jobs) serta menerapkan aktivitas-aktivitas yang lebih bersahabat dengan alam guna membentuk ekspansi lebih bersih serta berkesinambungan.
Terlebih, kini imbas perubahan iklim layaknya iklim tak menentu, banjir kerap timbul, kemarau panjang, sampai peningkatan muka air laut telah berlangsung, sambung beliau dalam Podcast Bappenas bertajuk “Green Indonesia Future Initiative (GIFT): Mempercepat Transformasi Ekonomi Hijau Indonesia” di Jakarta, Selasa (11/8).
Guna menanggulangi perubahan iklim tersebut, maka pola pembangunan ekonomi hijau dibutuhkan supaya mampu melindungi alam serta memacu ekspansi dalam bidang ekonomi sampai sosial.
Salah satu yang dirancang Bappenas guna mengintervensi imbas perubahan iklim yaitu GIFT, agenda kerja sama bersama Global Green Growth Institute (GGGI) guna memperkokoh kapasitas kelembagaan, merintis penanaman modal hijau, serta mempercepat lebih jauh landasan ekonomi hijau yang telah didirikan.
Dengan bahasa lain, GIFT disebut hendak menyatukan tiga unsur ekonomi hijau yang selama ini berdiri sendiri-sendiri, yakni perencanaan kebijakan, pengerahan penanaman modal, sampai penerapan.
“Ini ingin diintegrasikan dalam suatu kerjasama yang baik dan sinergi, sehingga nanti diharapkan GGGI dengan kapasitasnya bisa membawa dan menghadirkan keahlian dari sisi investasi hijau, baik keahlian maupun investasinya di Indonesia, juga terutama karena anggotanya semakin berkembang, GGGI semakin dikenal, sehingga jejaringnya bisa dimanfaatkan oleh Indonesia.” ungkap Nizhar.
“Sementara Indonesia, dalam hal ini Bappenas, juga punya kewajiban untuk memastikan bahwa semua kegiatan dan semua investasi tersebut juga tetap selaras dengan prioritas pembangunan nasional,” kata dia.
Lewat GIFT, pihak mereka menaruh harapan mampu mempercepat ekonomi hijau dengan meluaskan lebih lanjut imbasnya, utamanya dari segi lapangan pekerjaan hijau, menaikkan akses demi energi terbarukan, serta faedahnya merata di pelbagai wilayah.
“Kerjasama ini bukan hanya angka-angka target saja, tetapi juga bisa dirasakan langsung, baik itu oleh petani, nelayan, pekerja, dan dari keluarga yang memang hidupnya sangat bergantung dari sumber daya alam terutama, dan juga sangat rentan terhadap perubahan cuaca dan iklim yang kami alami saat ini,” kata Direktur Lingkungan Hidup Bappenas.