Proyeksi Bank Danamon: Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Meningkat Jadi 7,35 Persen

Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:53:31 WIB
Bank Danamon Indonesia. (Foto: NET)

JAKARTA - Bank Danamon Indonesia memperkriakan imbal hasil surat utang negara Indonesia tenor sepuluh tahun akan meningkat dari sekitar tujuh koma dua tiga persen menjadi tujuh koma tiga lima persen pada akhir tahun dua ribu dua puluh enam. 

Proyeksi tersebut sejalan dengan perkiraan kenaikan suku bunga Bank Indonesia serta pasokan penerbitan obligasi yang lebih besar. Meski demikian, likuiditas domestik yang membaik diperkirakan sebagian meredam tekanan pada tenor yang lebih panjang.

Bank Indonesia diperkirakan akan menggunakan seluruh langkah non-suku bunga sebelum melanjutkan kenaikan suku bunga. Bank sentral diproyeksikan merespons kondisi tersebut dengan dua kali kenaikan suku bunga sebesar dua puluh lima basis points menjadi enam koma dua lima persen pada akhir tahun. 

Kenaikan suku bunga tersebut diperkirakan terjadi karena defisit transaksi berjalan yang lebih lebar dan pasokan valuta asing struktural yang lebih lemah meningkatkan kerentanan rupiah.

“Ini karena defisit transaksi berjalan yang lebih lebar dan pasokan valuta asing struktural yang lebih lemah meningkatkan kerentanan rupiah,” mengutip Indonesia Macro Glint oleh Bank Danamon, Rabu (12/8/2026).

Namun, sebelum menaikkan suku bunga, Bank Indonesia akan terus memprioritaskan langkah-langkah non-suku bunga dan normalisasi Sertifikat Rupiah Bank Indonesia seiring dengan membaiknya likuiditas domestik. 

Normalisasi Sertifikat Rupiah Bank Indonesia diperkirakan terus berlanjut. Pengurangan penerbitan obligasi dan peningkatan likuiditas akan menekan premi likuiditas Sertifikat Rupiah Bank Indonesia. 

Imbal hasil Sertifikat Rupiah Bank Indonesia tenor dua belas bulan diperkirakan turun dari tujuh koma lima sembilan persen menjadi tujuh koma dua nol persen pada akhir tahun meskipun suku bunga Bank Indonesia lebih tinggi.

Untuk obligasi pemerintah Indonesia, imbal hasil diperkirakan mengalami kenaikan dengan kecenderungan perataan pasar bearish. 

Pengetatan Bank Indonesia ditambah dengan pasokan penerbitan yang lebih besar mendorong kenaikan harga yang lebih besar di sekitar jangka pendek hingga menengah, sementara likuiditas domestik yang membaik sebagian meredam tekanan pada tenor yang lebih panjang.

Terkini