ESDM Nyatakan Penetapan ICP Juli Cerminkan Dinamika Pasar Minyak Global

Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:05:01 WIB
Pimpinan Tinggi Pratama Urusan Minyak dan Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman. (Foto: NET)

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan bahwa penentuan rerata Harga Minyak Mentah Indonesia alias Indonesian Crude Price (ICP) bulan Juli menggambarkan gejolak pasar minyak mentah sedunia.

Pimpinan Tinggi Pratama Urusan Minyak dan Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menerangkan bahwa ICP Juli merosot dari 83,45 dolar AS per barel pada Juni 2026 menjadi 81,68 dolar AS per barel pada Juli 2026.

"Penetapan ICP bulan Juli 2026 sebesar 81,68 dolar AS per barel mencerminkan dinamika pasar minyak mentah global yang mengalami penyesuaian menyusul meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta berangsur pulihnya arus pasokan minyak dunia," kata Laode dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Meredupnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta mulai normalnya arus pasokan minyak bumi sejagat turut mengubah arah pergerakan harga minyak pada Juli 2026.

Di tanah air, pihak berwenang menetapkan rerata Harga Minyak Mentah Indonesia alias Indonesian Crude Price (ICP) Juli senilai 81,68 dolar AS per barel, menyusut 1,77 dolar AS apabila dibandingkan bulan sebelumnya. 

Keputusan penetapan ICP Juli 2026 tersebut tercantum di dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 319.K/MG.03/MEM.M/2026 mengenai Harga Minyak Mentah Indonesia Edisi Juli 2026.

Menurut Laode, evolusi harga minyak internasional dipengaruhi oleh unsur geopolitik, situasi pasokan, serta dinamika permintaan global. 

Salah satu elemen yang berdampak pada pergeseran tersebut yakni penurunan eskalasi perseteruan antara Amerika Serikat beserta Iran yang disusul oleh gencatan senjata serta terbukanya ruang diplomasi bilateral maupun multilateral.

Keadaan arus pelayaran di Selat Hormuz yang berangsur membaik pun dikabarkan memengaruhi tingkat kepercayaan pasar. 

Berdasarkan warta dari Badan Energi Internasional (IEA), pemulihan temporer lalu lintas di Selat Hormuz memicu lonjakan pasokan minyak sejagat hingga mencapai 4,1 juta barel per hari pada Juni 2026 sehingga akumulasi pasokan menyentuh angka 98,8 juta barel per hari.

Sejumlah unsur masih menjadi pemicu ketidakpastian, mencakup potensi peningkatan aksi militer dalam batasan tertentu serta fluktuasi persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Berbagai elemen tersebut berpotensi memengaruhi arah pergeseran nilai minyak pada masa mendatang.

Pemerintahan negara ini bakal senantiasa mengawasi perkembangan pasaran minyak internasional. Rumusan ICP pun bakal terus diberlakukan secara terbuka agar menggambarkan situasi pasaran internasional sekaligus tetap akuntabel demi keuangan negara dan sektor usaha hulu migas.

Pengawasan terhadap pergeseran pasokan, situasi geopolitik, serta perkembangan pasaran global menjadi bagian dari langkah pihak berwenang dalam menghadapi ketidakstabilan harga minyak sekaligus mempertahankan kestabilan harga serta ketahanan energi nasional.

Transformasi ICP tersebut menjadi bagian dari gejolak harga minyak mentah di pasaran internasional. Negara menyatakan bakal terus mengamati perkembangan pasaran global guna melindungi kestabilan harga serta ketahanan energi nasional.

Selanjutnya perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama pada Juli 2026 sebagai berikut:

Rata-rata ICP minyak mentah Indonesia turun sebesar 1,77 dolar AS/bbl dari 83,45 dolar AS/bbl menjadi 81,68 dolar AS/bbl.

  • Brent (ICE) turun sebesar 0,46 dolar AS/bbl dari 84,43 dolar AS/bbl menjadi 83,97 dolar AS/bbl.
  • WTI (Nymex) turun sebesar 2,57 dolar AS/bbl dari 81,79 dolar AS/bbl menjadi 79,22 dolar AS/bbl.
  • Dated Brent turun sebesar 2,06 dolar AS/bbl dari 85,47 dolar AS/bbl menjadi 83,41 dolar AS/bbl.
  • Basket OPEC turun sebesar 7,00 dolar AS/bbl dari 89,75 dolar AS/bbl menjadi 82,74 dolar AS/bbl.

Terkini