Pemerintah Andalkan Hujan Buatan Isi Waduk di Tengah El Nino

Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:28:01 WIB
WMO memperkirakan potensi El Nino [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemerintah menyiapkan hujan buatan lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mengisi danau dan waduk sebagai tindakan preventif menghadapi risiko kekeringan dampak El Nino. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan El Nino akan terus ada setidaknya sampai awal kuartal pertama 2027, dengan puncak kekuatan melampaui level kuat.

 Ancaman kekeringan ini berpotensi memburuk karena kemungkinan aktifnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada periode September—Desember 2026.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memaparkan bahwa BMKG tengah mengoptimalkan upaya mitigasi lewat OMC di sejumlah kawasan prioritas di Indonesia, berbarengan dengan menggalang respons cepat serta terpadu dari berbagai pihak untuk mencegah peningkatan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun kekeringan.

“BMKG mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas OMC sebagai bentuk komitmen mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu di Indonesia,” kata Faisal dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2026).

Terkait ancaman tersebut, BMKG menyatakan telah merampungkan tiga tahapan operasi pengisian waduk di Kepulauan Riau, Sumatra Utara, dan Sulawesi Tengah. Selanjutnya, OMC untuk pengisian ketersediaan air akan diarahkan ke empat titik strategis lainnya, yaitu Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, DAS Brantas, dan DAS Mamasa.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menyebutkan bahwa lembaganya kini sedang meningkatkan intensitas penyemaian awan lewat program OMC. Saat ini, BMKG sedang menjalankan OMC di wilayah Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan dengan sokongan dana dari Kementerian Kehutanan serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Penyemaian awan melalui OMC merupakan upaya komplementer untuk mengoptimalkan potensi hujan alami sebelum kekeringan parah terjadi. Namun, ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan OMC, pemadaman titik api secara langsung di darat menjadi tumpuan utama. Kami menyelaraskan upaya ini melalui koordinasi erat bersama BNPB, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Lingkungan Hidup,” ujar Seto.

Kendati demikian, rencana ini memicu pertanyaan terkait seberapa efektif hujan buatan dalam meningkatkan volume air di waduk, terlebih saat Indonesia tengah berhadapan dengan fenomena El Nino yang diproyeksikan bertahan sampai tahun 2027.

Harus Hitung Biaya

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, berpendapat bahwa OMC bisa menolong penambahan volume air danau serta waduk pada situasi spesifik. Meski begitu, tingkat kemanjurannya sangat bersandar pada keadaan atmosfer serta ketersediaan awan yang siap disemai. Menurutnya, OMC tidak serta merta membuat hujan dari langit yang bersih, melainkan mempercepat atau menaikkan laju presipitasi dari awan yang telah ada. Sebab itu, saat El Nino terjadi dengan skala kuat dan durasi panjang, stok awan potensial bisa sangat terbatas. Hal ini ujung-ujungnya mempersempit peluang keberhasilan OMC.

Lebih jauh, Yusuf memaparkan bahwa berbagai studi memperlihatkan tambahan hujan dari cloud seeding bisa mencapai kisaran 5%—20% di saat kondisi mendukung. Namun, bagi kawasan beriklim tropis semacam Indonesia, hasilnya sering kali berubah-ubah akibat sifat awan konvektif yang amat dinamis.

“Persoalannya, dari sisi ekonomi, kami tetap perlu melihat seberapa besar tambahan air tersebut benar benar berdampak pada elevasi waduk dan pasokan air. Mengukur dampak ini tidak mudah karena curah hujan alami sangat bervariasi sehingga kontribusi OMC sulit dipisahkan secara presisi,” kata Yusuf kepada Bisnis, Sabtu (8/8/2026).

Yusuf menambahkan, suplai air ekstra dari OMC sejatinya tetap punya nilai guna ekonomi lantaran bisa membantu menjaga aliran irigasi, air baku, serta produksi pembangkit listrik tenaga air dalam jangka pendek. Namun, kegiatan ini memakan biaya yang terus berulang, mulai dari penggunaan pesawat, material semai, personel, sampai biaya koordinasi antarinstansi.

“Manfaatnya perlu dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan, terutama jika kekeringan berlangsung lama dan awan yang dapat disemai semakin jarang,” imbuhnya.

Di samping itu, terdapat pula risiko di mana hujan yang sukses dipicu di suatu kawasan tidak langsung memberi faedah yang sama untuk wilayah lain dalam sebuah sistem sumber daya air. Hal tersebut bermakna, efektivitas OMC tidak semata-mata ditentukan oleh keberhasilan memproduksi hujan, tetapi juga bergantung pada seberapa besar air yang dihasilkan sanggup ditangkap dan disimpan di dalam waduk.

Meski demikian, dia menyatakan penggunaan teknologi modifikasi cuaca untuk meningkatkan curah hujan tidak cuma dilakukan oleh Indonesia. Beberapa negara, misalnya Amerika Serikat (AS), China, Uni Emirat Arab, hingga Australia telah memanfaatkan teknologi ini guna menopang pengisian waduk, peningkatan snowpack, serta ketahanan air.

“Dalam konteks Indonesia, tantangannya lebih kompleks karena kami berhadapan dengan awan tropis yang sangat dinamis dan penggunaan OMC juga sering diarahkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk penanganan karhutla,” lanjutnya.

Efektivitas OMC Harus Diukur

Sejalan dengan itu, Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Afaqa Hudaya, memandang OMC bisa menjadi sarana yang bermanfaat untuk menambah pasokan air dalam jangka pendek, tetapi tingkat keampuhannya sangat terpengaruh oleh situasi atmosfer.

Menurut pandangan Afaqa, OMC pada dasarnya tidak menciptakan air dari kondisi yang benar-benar kering, melainkan mengoptimalkan awan yang sudah ada agar menghasilkan hujan. Oleh sebab itu, ketika kondisi semakin kering akibat El Nino, stok awan potensial yang bisa disemai pun bisa makin terbatas.

Ia menilai keberhasilan OMC tidak cukup diukur sebatas dari peningkatan curah hujan. Menurutnya, pemerintah harus menghitung besaran pasti air yang betul-betul masuk dan tersimpan di dalam waduk atau danau, dana yang dihabiskan, maupun kerugian ekonomi yang sanggup dihindari. Pasalnya, lanjut dia, tambahan curah hujan tidak otomatis menaikkan volume waduk. Sebagian air mungkin saja menguap, meresap ke dalam tanah, atau sekadar menjadi aliran permukaan sebelum mencapai waduk penampungan.

Menghadapi ancaman El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga permulaan 2027, Afaqa menyarankan agar OMC ditempatkan sebagai alat kedaruratan atau langkah antisipatif, khususnya bagi daerah aliran sungai (DAS) dan waduk yang paling berisiko mengalami defisit air tingkat tinggi.

“Pemerintah perlu memastikan operasi dilakukan pada saat kondisi atmosfer mendukung dan memberikan tambahan air yang secara ekonomi layak dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan,” kata Afaqa kepada Bisnis.

Dia menambahkan, Indonesia bukanlah negara tunggal yang memanfaatkan teknologi modifikasi cuaca ini. AS, China, Thailand, Uni Emirat Arab, dan beberapa negara lain telah mengaplikasikan cloud seeding demi meningkatkan presipitasi, menyokong pasokan air, atau mengurangi risiko kekeringan. Kendati begitu, praktik internasional membuktikan bahwa keampuhan teknologi tersebut tidak berlaku secara universal. Hasil akhirnya sangat dipengaruhi oleh jenis awan, tingkat kelembapan, pola angin, topografi, serta karakteristik atmosfer masing-masing daerah.

Baginya, pemerintah tidak dapat mengukur keberhasilan OMC sekadar bersandar pada jumlah penerbangan atau misi penyemaian awan. Perbandingan yang jauh lebih krusial adalah cost-effectiveness, yaitu dana yang dikeluarkan berbanding dengan tambahan air serta manfaat ekonomi yang diraih.

“Perbandingan yang lebih penting justru adalah cost-effectiveness. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan tambahan air? Berapa besar tambahan inflow ke waduk? Dan apakah manfaat ekonomi yang diperoleh lebih besar daripada biaya OMC itu sendiri?” katanya.

Lebih lanjut, Afaqa juga berpendapat OMC tidak cukup dijadikan strategi satu-satunya dari pemerintah dalam menghadapi bahaya kekeringan. Ketahanan air juga membutuhkan pengelolaan pada aspek permintaan, penyimpanan, serta distribusi air yang efisien. Untuk itu, ia mendorong pemerintah agar lebih memperkuat program konservasi di daerah tangkapan air agar air hujan sanggup ditahan dan mengalir ke sistem hidrologis.

Selain itu, efisiensi konsumsi air wajib ditingkatkan, utamanya pada sektor industri, pertanian, dan penyediaan air baku. Di sisi lain, kapasitas penyimpanan juga wajib dikuatkan melalui pemaksimalan waduk yang sudah ada, pembangunan embung, fasilitas pemanen air hujan, maupun infrastruktur penyimpanan lain.

Bukan cuma itu, pemerintah dituntut untuk mempertimbangkan biaya peluang (opportunity cost) anggaran OMC jika dibandingkan dengan beragam alternatif kebijakan lain, mulai dari rehabilitasi DAS, modernisasi sistem irigasi, penekanan angka kebocoran jaringan air, pembuatan storage, sampai dengan teknologi pengolahan ulang air.

“OMC sebaiknya dipandang sebagai instrumen untuk membeli waktu ketika risiko kekeringan meningkat, bukan sebagai pengganti pembangunan ketahanan air. Ketahanan air jangka panjang tetap membutuhkan kombinasi antara konservasi DAS, efisiensi penggunaan air, optimalisasi waduk, dan diversifikasi infrastruktur penyimpanan serta sumber air,” pungkasnya.

Terkini